Sleman – Pemerintah Indonesia dan India sepakat untuk mempererat hubungan bilateral melalui pelestarian budaya.
Presiden Prabowo Subianto bersama Perdana Menteri India, Narendra Modi, secara resmi meluncurkan proyek kolaborasi jangka panjang untuk merestorasi Kompleks Candi Prambanan di Sleman, Yogyakarta.
Kerja sama konservasi ini direncanakan akan berlangsung selama satu dekade, terhitung sejak tahun 2026 hingga 2036 mendatang.
Peresmian proyek ditandai dengan pembukaan plakat kesepakatan bertajuk “Indonesia-India Collaborative Cultural Heritage Conservation” oleh kedua pemimpin negara, usai mereka melakukan peninjauan langsung ke area situs bersejarah tersebut.
Fokus pada Pemugaran Ratusan Candi Perwara
Agenda utama dari proyek restorasi masif ini adalah memugar lebih dari 200 candi perwara yang terletak di halaman kedua kompleks Prambanan.
Saat ini, kondisi ratusan candi pendamping tersebut sebagian besar masih berupa reruntuhan batu kuno yang belum tersusun kembali.
Sentuhan Teknologi Modern dan AI
Berbeda dengan pemugaran konvensional, proyek lintas negara ini akan mengintegrasikan teknologi mutakhir guna menjaga keakuratan arkeologis.
Beberapa metode modern yang akan diterapkan meliputi:
1. Survei LiDAR untuk pemetaan topografi dan struktur situs secara presisi.
2. Rekonstruksi Digital Berbasis Kecerdasan Buatan (AI) untuk mensimulasikan penyusunan kembali struktur bangunan yang runtuh.
3. Dokumentasi Digital yang komprehensif sebagai arsip ilmiah.
4. Metode Anastilosis, yaitu teknik rekonstruksi dengan mengembalikan batu-batu asli ke posisi semula sedapat mungkin.
Lebih dari Sekadar Pemugaran Fisik
Selain mengembalikan kemegahan fisik bangunan, kolaborasi ini juga dirancang sebagai wadah transfer ilmu pengetahuan.
Kedua negara berkomitmen untuk bertukar keahlian antarpakar arkeologi, meningkatkan sistem pengelolaan tata kelola situs warisan dunia, serta memperkuat ikatan budaya yang secara historis telah terjalin lama antara Indonesia dan India.
Sebagai informasi, Candi Prambanan merupakan mahakarya arsitektur Hindu yang dibangun pada abad ke-9 (sekitar tahun 856 M) oleh Rakai Pikatan dan Rakai Kayuwangi.
Kompleks yang memiliki 240 bangunan candi dengan konsep Trimurti (Siwa, Wisnu, Brahma) ini telah diakui sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO sejak tahun 1991.
Kerja sama baru ini diharapkan dapat menjaga kelestarian peradaban bernilai tinggi tersebut untuk generasi masa depan.












