MUARO JAMBI – Gelombang penolakan terhadap aktivitas stockpile batu bara milik PT SAS terus berlanjut. Ratusan warga yang menggabungkan massa dari Kenali, Mendalo Darat, Penyengat Rendah, pedagang Pasar Aurduri, serta Lembaga Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor PT SAS, Jalan Lintas Sumatera, Mendalo Darat, Kecamatan Jambi Luar Kota, Kabupaten Muaro Jambi, Kamis (20/8/2026).
Salah satu perwakilan massa aksi, Yanti, menegaskan bahwa keberadaan stockpile tersebut telah berdampak langsung pada kenyamanan, kesehatan, hingga keselamatan jiwa warga sekitar. Dalam aksi ini, massa menyampaikan empat poin tuntutan utama:
- Penolakan Total Aktivitas Stockpile: Menolak keberadaan fasilitas penyimpanan batu bara PT SAS yang dianggap mengganggu kehidupan masyarakat.
- Penghentian Aktivitas Pencemaran: Mendesak instansi terkait menyetop operasional yang memicu bahaya debu batu bara, polusi suara armada truk dan alat berat, kerusakan jalan, serta tingginya risiko kecelakaan lalu lintas.
- Audit dan Evaluasi Perizinan: Menuntut pemerintah daerah serta dinas terkait untuk segera meninjau ulang izin operasional PT SAS dan melakukan audit lingkungan (AMDAL/UKL-UPL) secara transparan.
- Kepastian Jaminan Kesehatan: Menuntut jaminan perlindungan hukum atas kesehatan warga dan kelestarian lingkungan hidup.
Sangat disayangkan, kedatangan massa aksi tidak disambut oleh satu pun perwakilan manajemen PT SAS. Pintu kantor tampak terkunci rapat dan tanpa aktivitas penghuni. Sikap acuh perusahaan memicu kekecewaan mendalam bagi para peserta aksi. Massa menegaskan akan terus bertahan di depan kantor, bahkan siap menginap di lokasi hingga ada pihak manajemen yang mau menemui dan menampung aspirasi mereka.
Hingga berita ini diturunkan, tim redaksi masih terus berupaya menghubungi pihak manajemen PT SAS untuk mendapatkan klarifikasi dan perimbangan berita terkait tuntutan warga tersebut.












