JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau tahun ini akan berlangsung pada periode Agustus hingga September. Sejumlah wilayah di Indonesia diimbau untuk mewaspadai ancaman kekeringan, krisis air bersih, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa wilayah-wilayah tersebut diperkirakan akan mengalami curah hujan di bawah normal hingga awal Oktober mendatang sebelum akhirnya kembali memasuki musim penghujan.
📌 Wilayah dengan Potensi Kekeringan Tertinggi
Berdasarkan analisis klimatologi BMKG, daerah yang masuk dalam kategori rentan dan memiliki potensi kekeringan tertinggi meliputi:
• Sebagian besar Pulau Jawa
• Bali
• Nusa Tenggara (NTB dan NTT)
• Kalimantan bagian selatan
• Sulawesi bagian selatan
⚠️ Dampak yang Perlu Diantisipasi
• Sektor Pertanian & Krisis Air: Khusus di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara, kerentanan dinilai tinggi akibat tingginya jumlah populasi serta kebutuhan air yang masif untuk sektor pertanian. Defisit air bersih juga menjadi ancaman nyata di daerah-daerah yang memiliki keterbatasan sumber air.
• Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla): Wilayah Bali, Nusa Tenggara, serta Kalimantan bagian selatan dan tengah diminta siaga menghadapi peningkatan titik panas (hotspot) seiring minimnya curah hujan.
• Sulawesi Selatan: Mengalami defisit hujan hingga September yang berpotensi mengganggu ketersediaan air dan produktivitas pertanian setempat.
Di sisi lain, tidak semua wilayah di Indonesia mengalami kondisi serupa. BMKG mencatat bahwa Sumatera Utara, Aceh, dan pesisir Riau memiliki risiko kekeringan yang relatif lebih rendah karena memiliki karakteristik iklim yang berbeda dan diprediksi lebih cepat disinggahi hujan.
Kondisi musim kemarau tahun ini turut dipengaruhi oleh fenomena El Niño yang diperkirakan bertahan hingga awal tahun 2027, meski dampaknya diproyeksikan mulai melemah secara bertahap pada pertengahan Oktober. BMKG mengimbau pemerintah daerah serta masyarakat untuk mengoptimalkan langkah mitigasi dini guna meminimalisir dampak buruk dari puncak musim kemarau ini.












