BMKG: Sebagian Besar Jawa hingga Bali Berpotensi Alami Kekeringan Ekstrem Saat Puncak Kemarau

- Jurnalis

Jumat, 31 Juli 2026 - 11:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau tahun ini akan berlangsung pada periode Agustus hingga September. Sejumlah wilayah di Indonesia diimbau untuk mewaspadai ancaman kekeringan, krisis air bersih, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

​Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa wilayah-wilayah tersebut diperkirakan akan mengalami curah hujan di bawah normal hingga awal Oktober mendatang sebelum akhirnya kembali memasuki musim penghujan.

📌 Wilayah dengan Potensi Kekeringan Tertinggi

Berdasarkan analisis klimatologi BMKG, daerah yang masuk dalam kategori rentan dan memiliki potensi kekeringan tertinggi meliputi:

• Sebagian besar Pulau Jawa
​• Bali
​• Nusa Tenggara (NTB dan NTT)
​• Kalimantan bagian selatan
​• Sulawesi bagian selatan

Baca Juga :  Prabowo Umumkan UU PPRT Disahkan Saat May Day, Penantian 22 Tahun Berakhir

⚠️ Dampak yang Perlu Diantisipasi

• Sektor Pertanian & Krisis Air: Khusus di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara, kerentanan dinilai tinggi akibat tingginya jumlah populasi serta kebutuhan air yang masif untuk sektor pertanian. Defisit air bersih juga menjadi ancaman nyata di daerah-daerah yang memiliki keterbatasan sumber air.

• Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla): Wilayah Bali, Nusa Tenggara, serta Kalimantan bagian selatan dan tengah diminta siaga menghadapi peningkatan titik panas (hotspot) seiring minimnya curah hujan.

• Sulawesi Selatan: Mengalami defisit hujan hingga September yang berpotensi mengganggu ketersediaan air dan produktivitas pertanian setempat.

Baca Juga :  Resmi! Aktivasi Nomor HP Baru Wajib Verifikasi Wajah Mulai Juli 2026

Di sisi lain, tidak semua wilayah di Indonesia mengalami kondisi serupa. BMKG mencatat bahwa Sumatera Utara, Aceh, dan pesisir Riau memiliki risiko kekeringan yang relatif lebih rendah karena memiliki karakteristik iklim yang berbeda dan diprediksi lebih cepat disinggahi hujan.

Kondisi musim kemarau tahun ini turut dipengaruhi oleh fenomena El Niño yang diperkirakan bertahan hingga awal tahun 2027, meski dampaknya diproyeksikan mulai melemah secara bertahap pada pertengahan Oktober. BMKG mengimbau pemerintah daerah serta masyarakat untuk mengoptimalkan langkah mitigasi dini guna meminimalisir dampak buruk dari puncak musim kemarau ini.

Berita Terkait

Ahli PPATK Sebut Kasus TPPU Febrie Adriansyah Bisa Diusut Tanpa Tunggu Pidana Asal
Polda Metro Jaya Siagakan 1.358 Personel Amankan Demo di Jakarta Pusat
Massa Datangi PN Jaksel, Desak Hakim Tolak Gugatan Praperadilan Febrie Adriansyah
Kemensos Salurkan Santunan Duka Rp 15 Juta untuk Korban Gempa Nagekeo
Aksi Balita 2 Tahun di Wonosobo Bikin Geger, Nekat Panjat Atap Rumah WARGA
Ketua P2SP SDN 219 Kota Jambi Bungkam, Sejumlah Pernyataan Terkait K3, Keselamatan hingga Pengelolaan Keuangan Dipertanyakan
Ibas: Pendidikan Adalah Investasi Peradaban, Bukan Sekadar Bangunan Sekolah
Aksi Tolak Stockpile Batu Bara PT SAS, Warga dan WALHI Duduki Kantor Perusahaan
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 12:11 WIB

Ahli PPATK Sebut Kasus TPPU Febrie Adriansyah Bisa Diusut Tanpa Tunggu Pidana Asal

Senin, 24 Agustus 2026 - 11:18 WIB

Polda Metro Jaya Siagakan 1.358 Personel Amankan Demo di Jakarta Pusat

Senin, 24 Agustus 2026 - 10:45 WIB

Massa Datangi PN Jaksel, Desak Hakim Tolak Gugatan Praperadilan Febrie Adriansyah

Minggu, 23 Agustus 2026 - 18:41 WIB

Kemensos Salurkan Santunan Duka Rp 15 Juta untuk Korban Gempa Nagekeo

Jumat, 21 Agustus 2026 - 10:01 WIB

Ketua P2SP SDN 219 Kota Jambi Bungkam, Sejumlah Pernyataan Terkait K3, Keselamatan hingga Pengelolaan Keuangan Dipertanyakan

Berita Terbaru