MUARO JAMBI — Tumpukan sampah yang menggunung di kawasan perkantoran Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi menuai sorotan tajam. Sampah rumah tangga bercampur plastik dan sisa makanan terlihat menumpuk hingga ke badan jalan, menimbulkan bau menyengat dan mengganggu aktivitas pegawai maupun pengendara yang melintas.
Kondisi tersebut terjadi tak jauh dari kantor Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Muaro Jambi, bahkan berada di pusat jantung pemerintahan daerah. Warga menilai situasi ini ironis, karena kawasan yang seharusnya menjadi contoh dalam pengelolaan kebersihan justru dipenuhi sampah.
Seorang pengendara yang kerap melintas mengaku terganggu dengan bau yang menyengat.
“Baunya menyengat sekali. Kalau lewat harus tutup hidung,” ujarnya.
DPRD Kritik Keras Kinerja DLH
Sorotan keras datang dari Ulil Amri, anggota DPRD Muaro Jambi dari Fraksi PAN. Ia menilai penanganan persoalan sampah tersebut menunjukkan lemahnya respons dan inisiatif dari pihak terkait.
Dalam pernyataannya, Ulil menyebut:
“Low respons, tidak ada inisiatif. Seharusnya lebih baik dari pejabat sebelumnya. Ini justru terkesan pembiaran.”
Ia mempertanyakan kinerja pengelolaan sampah oleh DLH, terlebih lokasi penumpukan berada di pusat pemerintahan. Menurutnya, jika di kawasan inti saja tidak tertangani dengan baik, maka dikhawatirkan kondisi di wilayah lain bisa lebih parah.
Ulil juga meminta agar Bupati melakukan evaluasi apabila persoalan serupa terus berulang dan tidak ada langkah cepat dari instansi teknis.
Kadis LH: Terkendala BBM Akibat Sistem Non Tunai
Menanggapi kritik tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Muaro Jambi memberikan klarifikasi. Ia menjelaskan bahwa keterlambatan pengangkutan sampah terjadi akibat kendala teknis operasional, khususnya terkait bahan bakar minyak (BBM) armada pengangkut.
Dalam keterangannya, ia menyampaikan:
“Terkendala BBM karena proses kerja sama dengan SPBU sebelumnya tunai dan sekarang non tunai. Lambat proses transfer dari Bank Jambi. Alhamdulillah sudah terselesaikan.”
Menurutnya, peralihan sistem pembayaran BBM dari tunai ke non tunai menyebabkan keterlambatan proses transfer dana, sehingga armada truk sampah sempat tidak bisa beroperasi maksimal.












