Pasuruan – Kisah inspiratif datang dari seorang pedagang cilok lanjut usia, Mislicha Kasib (85), warga Bugul Kidul, Kota Pasuruan, yang akhirnya berhasil mewujudkan impiannya menunaikan ibadah haji setelah puluhan tahun menabung dari hasil jualannya.
Selama kurang lebih 65 tahun, Mislicha menjalani hidup sederhana dengan berjualan cilok keliling. Setiap hari, ia sudah bangun sejak pukul 02.00 WIB untuk menyiapkan dagangan, sebelum akhirnya berjualan di depan sekolah dengan mendorong gerobak sejauh sekitar satu kilometer.
Meski penghasilannya terbilang kecil—sekitar Rp50 ribu per hari—Mislicha tetap konsisten menyisihkan uang sebesar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu setiap hari. Kebiasaan sederhana itu ia lakukan tanpa henti selama puluhan tahun.
“Sudah 65 tahun saya jualan cilok. Kalau tidak menabung sedikit-sedikit, tidak akan bisa karena pengeluaran sangat banyak,” ujar Mislicha.
Selain dari hasil tabungan harian, ia juga mengumpulkan dana melalui arisan hingga akhirnya mampu membayar setoran awal biaya haji sekitar Rp25 juta dan mendaftar pada tahun 2017.
Setelah menunggu sekitar sembilan tahun, Mislicha kini dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada musim haji 1447 H/2026 sebagai bagian dari Kloter 10 Embarkasi Surabaya.
Perjuangan Mislicha tidak mudah. Sejak ditinggal wafat suaminya, ia harus berjuang sendiri membesarkan delapan anak. Namun keterbatasan ekonomi tidak mematahkan tekadnya untuk terus berusaha dan menabung demi mewujudkan cita-cita berhaji.
Kisah keteguhan ini juga menginspirasi putri bungsunya, Mariatul Qibtiyah, yang ikut menabung dari hasil berjualan cilok agar bisa mendampingi sang ibu ke Tanah Suci.
“Tabungan Rp10 ribu itu yang membawa saya ke Kakbah,” menjadi gambaran nyata bahwa mimpi besar bisa diraih dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.












